Batik Bernilai Budaya Sekaligus Ekonomis

Masih banyak orang di desa yang menjadikan membatik sebagai aktifitas untuk mengisi waktu senggangnya, sehingga kualitas batik dan pendapatan yang diperolehnya pun masih sekenanya.

Padahal, dengan adanya kebijakan produk lokal dan penggunaan batik motif Goa Lawa khas Purbalingga yang sedang digencarkan pemerintah kabupaten, para pebatik yang tinggal di desa punya peluang untuk lebih sejahtera.

“Workshop ini untuk membuka wawasan masyarakat dan juga pebatik di desa mengenai potensi mereka. Karena batik tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga ekonomis,” kata Pemilik Galeri Purwita, Rizky Purwitasari, saat workshop membatik di Desa Majapura, Bobotsari, Minggu (15/10) lalu.

Workshop tersebut juga bertujuan mengenalkan motif Goa Lawa dan digelar bersama-sama oleh Galeri Purwita, Karangtaruna Wirabumi Desa Majapura, serta Karangtaruna Kusuma Bangsa Desa Gandasuli.

“Pesertanya warga yang ingin belajar membatik, serta pebatik dari Desa Majapura, Desa Gandasuli, dan Desa Bobotsari. Bahkan ada peserta dari Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet,” ujarnya.

Dalam workshop tersebut, peserta belajar menggambar pola batik Goa Lawa sampai proses pewarnaan.

“Kebanyakan peserta baru mengenal motif Goa Lawa. Semoga pengalaman ini bisa memotivasi mereka, khususnya para pebatik,” kata Rizky.

Ketua Karangtaruna Kusuma Bangsa Desa Gandasuli, Hudiman meyakini, workshop bisa membuat pebatik di Gandasuli lebih bersemangat. Sebab, selama ini aktifitas membatik sebatas nyanting kain dan belum pernah mewarnainya sendiri.

Hal senada jugadisampaikan Ketua Karangtaruna Wirabumi, Desa Majapura, Agung Sunarko. Dia sangat mengapresiasi program tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *