Sejarah Desa Dagan

Secara adminsitratif, desa Dagan merupakan sebuah desa yang masuk dalam wilayah kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Desa Dagan terletak di sebelah barat Kantor Pemerintah Kecamatan Bobotsari, dengan jarak tempuh sekitar 4,5 km. Belum ada penelitian secara ilmiah mengenai sejarah berdirinya desa Dagan. Hanya, dari cerita para sesepuh, desa Dagan telah ada pada zaman sebelum kerajaan Mataram beridiri. Jika cerita ini benar, maka desa Dagan merupakan desa tertua di kabupaten Purbalingga. Dalam risalah Babad Purbalingga, nama desa Dagan sama sekali tidak tertulis. Tulisan ini bukan merupakan tulisan sejarah ilmiah. Hanya sebagaimana jamaknya sejarah desa-desa di Indonesia, desa Dagan pun mempunyai riwayat tersendiri.

Asal-Usul Desa Dagan

Syahdan, sahibul hikayat terjadilah ontran-ontran (perang) antara Wlingi Kesuma dan para Adipati Brang Wetan (Tanah Seberang) di sebuah perguruan bernama Nimbasari pada abad ke XIV. Wlingi Kesuma merupakan putra Syekh Gendhiwesi, ketua Perguruan Nimbasari. Wlingi Kesuma mempunyai adik bernama Dyah Wasiyati. Perang antara Wlingi Kesuma dan para Adipati terjadi karena para Adipati tersebut memperebutkan Putri Dyah Wasiyati untuk dijadikan permaisuri.

Ajian Tunggul Naga

Pertempuran berlangsung cukup sengit. Para Adipati tidak bisa mengalahkan Wlingi Kesuma karena, Wlingi Kesuma mempunyai ajian (ilmu kanuragan) Tunggul Naga. Konon, Ajian Tunggul Naga memiliki kedahsyatannya setingkat dengan Ajian Rawa Rontek, maupun Panca Sona. Ketika seseorang mempunyai ajian Tunggul Naga, maka ia akan hidup lagi meski sudah terbunuh. Hal tersebut dibuktikan oleh Wlingi Kesuma. Meski berhasil dibunuh dan jasadnya menyentuh tanah, Wlingi Kesuma hidup lagi. Setelah hidup lagi, maka terjadilah kejar-kejaran antara Adipati dengan Wlingi Kesuma hingga ke sebuah Dukuh bernama Pamujan. Dari Dukuh Pamujan naik ke sebelah barat sampai ke sebuah Dukuh bernama Dukuh Dagul. Nah, di Dukuh Dagul itulah Wlingi Kesuma berhasil ditebas tangannya. Pada saat Kejar-kejaran itulah, Wlingi Kesuma sempat berujar.

” Kelak, apabila ada kemakmuran zaman, maka tempat ini aku beri nama Dagan ”

Kata “Dagan” merupakan kependekan dari kata “Udag-udagan”. Dalam bahasa Jawa, kata “Udag-udagan” berarti “Kejar-kejaran”.

Wlingi Kesuma Terbunuh

Kemudian Wlingi Kesuma dikejar lagi sampai kembali ke Perguruan Nimbasari (Limbasari). Di perguruan milik ayahnya inilah, tubuh Wlingi Kesuma dipotong – potong dan dipisah-pisahkan kebeberapa tempat yang dipisahkan oleh sungai. Konon setiap potongan tubuh Wlingi Kesuma akan menjelma menjadi seeokar Ular Naga besar yang tetap menempati di mana potongan jasad tersebut dikubur. Dan barang siapa yang bisa menyatukan tanah dari tempat potongan jasad Wlingi Kesuma ketika malam bulan purnama ke Sungai Wlingi (terletak di desa Limbasari), maka dia yang akan mewarisi ajian Tunggul Naga yang ngedab-edabi (dahsyat) tersebut. Untuk memberi arti nama desa yang benar-benar memiliki makna, maka pada tahun 1970 tokoh masyarakat desa Dagan memberi arti nama Dagan per suku kata yaitu :
D : Den Nyengkuyung
A : Ambangkit Kridaning Dusun
G : Gumolonging Tekad
A : Ambangun Lair Trus Bathin
N : Nulya Kongas Negari Kerta Raharja

Kesimpulan

Meski hanya cerita turun-temurun, namun beberapa tempat yang disebutkan dalam Babad Desa Dagan, benar adanya. Misalnya, Nimbasari. Tempat tersebut sekarang bernama Limbasari. Kemudian Pamujan, yang merupakan wilayah dusun V desa Dagan. Lantas sungai Wlingi. Sungai ini terletak di desa Limbasari. Benar atau tidaknya cerita tersebut, perlu dibuktikan dengan penelitian ilmiah yang lebih dalam.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.